Postingan

Tempe Setengah Jadi

Gambar
  Abah dan Emak tinggal di sebuah desa yang cukup terpencil. Setiap hari, mereka bekerja membuat tempe untuk kemudian Abah menjualnya ke pasar. Jualan tempe merupakan satu-satunya sumber pendapatan mereka untuk bertahan hidup. Pada suatu pagi, Abah jatuh sakit, Emak pun mengambil alih tugas menjual tempe. Saat tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar menjual tempenya, tiba-tiba Emak sadar bahwa tempe buatannya hari itu masih belum matang, masih separuh jadi. Emak merasa sangat sedih karena tempe yang masih muda dan belum matang pastinya tidak akan laku. Itu artinya, untuk hari itu, mereka tidak akan mendapatkan pemasukan. Ketika Emak dalam kesedihan, tiba-tiba Allah mengingatkan Emak bahwa Allah SWT. Mampu melakukan perkara-perkara ajaib karena tiada yang mustahil bagi-Nya. Emak pun mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar kacang kedelai ini menjadi tempe, aamiin.” Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hati. Emak s...

Kebahagiaan yang Tertunda

Gambar
Ada sebuah kisah sejati dari seorang akhwat yang juga memiliki seorang kakak perempuan. Mereka berdua termasuk gadis yang banyak sekali disenangi oleh para ikhwan. Selain karena paras wajah keduanya yang cantik mereka juga dari keluarga yang terhormat, mereka berdua adalah para muslimah yang shalihah. Banyak ikhwan yang datang untuk melamar mereka. Namun sayangnya, orang tua mereka yang merasa memiliki kedudukan yang tinggi di mata masyarakat, ingin juga mendapatkan menantu yang sama-sama dari kalangan terhormat atau bahkan status sosialnya melebihi mereka. Alhasil, satu per satu para ikhwan mulai mundur. Dari sekian banyak ikhwan yang datang melamar, tak ada satu pun yang dinilai cocok oleh kedua orang tua mereka. Hingga tahun demi tahun pun berlalu. Usia mereka berdua pun merangkak semakin senja.  Di usia setengah abad, sang adik didatangi oleh seorang pemuda yang masih sangat muda. Jauh sekali perbedaan umur antara keduanya. Sang akhwat begitu senang karena a...

Dibalik Daun yang Berserakan

Gambar
  Ada satu kisah yang membuat saya menangis. kisah ini saya dapatkan dalam buku Kang Jalal atau K.H. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Rindu Rasul : Meraih Cinta Ilahi Melalui Syafa’at Nabi saw.   (Rosda:2001). Di sini saya kutipkan kisah ini untuk Anda walaupun mungkin ada di antara pembaca yang sudah pernah mendengarnya. Dahulu, di sebuah kota di Madura, terdapat seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Lalu ia pun berwudhu, memasuki masjid dan shalat dzuhur. Setelah mebaca wirid dan doa sekadarnya, ia pun keluar masjid, lalu membungkuk-bungkuk di halaman. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran. Selembar demi selembar dikaisnya, tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja perlu waktu lama untuk membersihkan halaman masjid dari dedaunan yang jatuh dari pohon dengan cara seperti itu. P...